Minggu, 01 Juli 2012


Salah satu  ciri dari negara berkembang adalah sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani. Kegiatan pertanian yang dilakukan masih menggunakan peralatan tradisional, dan mengandalkan tenaga hewan dan manusia. Lalu, apakah di negara maju tidak mengenal pertanian? Tentu saja negara maju juga masih mengenal pertanian meskipun hanya sebagian kecil saja. Tetapi perbedaannya terletak pada peralatan dan teknologi yangdigunakan. Pertanian di negara maju menggunakan peralatan modern berupa traktor untuk mengolah tanah.

A. Pengertian Negara Maju dan Negara Berkembang
Dalam konteks ekonomi internasional, dikenal dengan istilah “negara maju” dan “negara berkembang”. Kedua istilah tersebut merupakan penggolongan negara-negara di dunia berdasarkan kesejahteraan atau kualitas hidup rakyatnya. Negara maju adalah negara yang rakyatnya memiliki kesejahteraan atau kualitas hidup yang tinggi. Sedangkan negara berkembang adalah negara yang rakyatnya memiliki tingkat kesejahteraan atau kualitas hidup taraf sedang atau dalam perkembangan. Negara yang digolongkan sebagai negara maju terdapat di benua Eropa terutama kawasan Eropa Barat serta Amerika (Utara) Misalnya Belanda, Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan lain-lain. Sedangkan yang digolongkan negara berkembang terdapat di Benua Asia, Afrika, dan Amerika Selatan (Latin). Di kawasan Asia terdapat beberapa negara maju seperti Jepang, Australia, Korea Selatan dan Selandia Baru. Tolok ukur atau indikator dalam penggolongan negara sebagai negara maju atau negara berkembang sebagai berikut.
1. Pendapatan Perkapita
Pendapatan perkapita merupakan indikator terpenting dalam mengukur tingkat kesejahteraan rakyat suatu negara. Sebuah negara dikatakan makmur apabila rakyatnya memiliki pendapatan perkapita yang tinggi. Namun demikian, tingginya pendapatan perkapita bukan penentu kemakmuran suatu negara. Meskipun negara itu pendapatan perkapitanya tinggi, namun jika terjadi perang saudara di dalam negara tersebut, maka tidak dapat disebut sebagai negara makmur/sejahtera. Karena dengan adanya peperangan banyak menimbulkan kematian, penderitaan, dan rasa tidak aman.
2. Jumlah Penduduk Miskin
Tingkat kesejahteraan rakyat suatu negara dapat dilihat dari angka kemiskinan. Suatu negara dikatakan makmur/sejahtera apabila rakyatnya yang hidup miskin berjumlah sedikit saja. 
3. Tingkat Pengangguran
Salah satu ciri yang membedakan antara negara maju dan negara berkembang adalah tingkat pengangguran. Di negara maju umumnya tingkat penganggurannya rendah. Sebaliknya di negara berkembang biasanya tingkat penganggurannya tinggi.

4. Angka Kematian Bayi dan Ibu Melahirkan
Salah satu ciri yang membedakan antara negara maju dan negara berkembang adalah angka kematian bayi dan ibu melahirkan. Di negara maju umumnya angka kematian bayi dan ibu melahirkan rendah. Hal ini disebabkan penduduk mampu membeli makanan yang bergizi, mampu membeli pelayanan kesehatan dan obatobatan yang memadai. Sebaliknya di negara berkembang angka kematian bayi dan ibu melahirkan relatif tinggi. Hal ini disebabkan penduduk tidak mampu membeli makanan yang bergizi, tidak mampu membeli pelayanan kesehatan dan obat-obatan yang memadai, karena pendapatannya rendah.
5. Angka Melek Huruf
Angka melek huruf menunjukkan jumlah penduduk yang dapat membaca dan menulis. Suatu negara dikatakan maju apabila angka melek hurufnya tinggi atau angka buta hurufnya rendah.
Selain 5 indikator tersebut di atas, masih terdapat beberapa indikator untuk membedakan negara maju dan negara berkembang. Indikator tersebut adalah: tingkat pendidikan, usia harapan hidup, pengeluaran untuk kesehatan dan lain-lain.
B Beberapa Negara Maju dan Negara Berkembang
Untuk melihat tingkat kemakmuran suatu negara, dapat dilihat dari aspek kependudukan dan ekonomi negara tersebut. Antara negara maju dan negara berkembang terdapat keadaan yang bertolak belakang pada aspek kependudukan dan aspek ekonomi. Bandingkan data-data kependudukan dan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang di bawah ini!














1. Negara Maju


2. Negara Berkembang
Dari data-data di atas dapat kita bandingkan antara keadaan kependudukan dan ekonomi negara maju dan negara berkembang. Misalnya pertumbuhan penduduk Belanda 0,3 % per tahun, sedangkan India 1,4 % per tahun. Angka Harapan hidup di Belanda 78,7 tahun, sedangkan di India 63,5 tahun. Angka kelahiran di Belanda 1,7, sedangkan di India 2,9. Angka kematian bayi di Belanda 4,8, sedangkan di India 61,6. Pendapatan per kapita di Belanda 36. 620 US$, sedangkan di India 720 US$. Dari data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup penduduk di negara maju seperti Belanda jauh lebih baik daripada kualitas hidup di negara berkembang seperti India. Negara maju memiliki pendapatan perkapita relativ lebih tinggi daripada negara berkembang. Implikasi dari pendapatan perkapita yang tinggi adalah kemampuan untuk membeli bahan makanan yang lebih bergizi dan memadai. Selain itu kemampuan membeli pelayanan kesehatan, obat-obatan pelayanan pendidikan juga lebih baik daripada yang pendapatan perkapitanya rendah.





































Berdasarkan tingkat kesejahteraan masyarakat, negara-negara di dunia sekarang  biasanya dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu negara-negara maju (developed countries) dan negara-negara yang sedang berkembang (developing countries). Yang dikelompokkan kedalam negara-negara yang sudah maju adalah negara-negara yang ada di Eropa Barat, Australia, Amerika Serikat, Jepang, dsb. Selain itu,  negara-negara maju juga berasal dari negara-negara komunis seperti yang terdapat di Eropa Timur: Uni Sovyet, Polandia, dan Cekoslowakia.
      Sebagian besar negara-negara sedang berkembang dan terbelakang terdapat di benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin dimana diperkirakan dua pertiga penduduk dunia tersebut tinggal. Taraf pembangunan penduduk relatif masih rendah dan banyak diantara yang mempunyai pendapatan per kapita sangat rendah. Memang ada beberapa negara sedang berkembang yang mempunyai pendapatan per kapita yang jauh lebih tinggi di atas negara-negara yang sudah maju, misalnya Arab Saudi, Brunei Darussalam, dsb. Namun negara-negara tersebut belum dianggap sebagai negara maju karena struktur ekonomi dan masyarakat mereka tidak berbeda dengan negara-negara sedang berkembang lainnya.
      Menurut Laporan Bank Dunia Tahun 1999/2000, negara-negara di dunia dapat dibagi kedalam tiga kelompok yaitu :
a.     Kelompok negara berpendapatan rendah (lower income) jika income £ US$ 760
b.    Kelompok negara berpendapatan menengah yang dibagi kedalam dua kelompok yaitu negara berpendapatan Menengah rendah (lower- midlle income) jika incomenya terletak  US$ 761 – US 3.030  dan negara berpendapatan Menengah tinggi (upper-midlle income) jika incomenya terletak antara US$ 3.031 – US$ 9.360.
c.     Kelompok negara berpendapatan tinggi (high income) jika income perkapitanya  ³ US$ 9.361

Todaro (1997) mengemukakan cirri-ciri umum negara dari yang sedang berkembang yaitu:
1)    Tingkat Kehidupan Yang Rendah
Pada umumnya tingkat kehidupan sebagian besar penduduk negara-negara sedang berkembang cenderung rendah. Tingkat kehidupan yang rendah tersebut bukan hanya jika dibandingkan dengan negara-negara maju tetapi juga jika dibandingkan dengan sekelompok kecil penduduk di dalam negara sedang berkembang itu sendiri.
2)    Tingkat Produktivitas Rendah
Sebagai akibat lebih lanjut dari tingkat hidup yang rendah negara-negara sedang berkembang ditandai oleh tingkat produktivitas tenaga kerja yang rendah. Rendahnya produktivitas tenaga kerja tersebut bisa disebabkan oleh tidak adanya atau kurangnya input komplementer seperti modal fisik dan atau manajemen yang baik.
3)    Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Beban Tanggungan Yang Tinggi
Lebih dari dua pertiga penduduk dunia ini berada di negara-negara sedang berkembang. Tingkat kelahiran dan tingkat kematian sangat berbeda. Tingkat kelahiran kasar di negara sedang berkembang relatif lebih tinggi dibandingkan tingkat kelahiran di negara yang sudah maju.
Tingkat kematian yang terdapat di negara sedang berkembang juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kematian yang terdapat di negara sedang berkembang. Akibatnya, tingkat pertumbuhan penduduk di negara sedang berkembang selalu lebih tinggi dibandingkan dengan negara yang sudah maju. Implikasi yang penting dari tingginya tingkat kelahiran ini adalah bahwa proporsi anak-anak di bawah usia 15 tahun hampir separuh dari penduduk total di negara-negara sedang berkembang, sedangkan di negara-negara maju hanya kurang dari seperempat dari jumlah penduduk. Keadaan tersebut menyebabkan tingginya beban tanggungan (dependency burden).
4)    Tingginya Tingkat Perkembangan Pengangguran dan Pengangguran Semu
Salah satu wujud utama dan faktor yang menyebabkan rendahnya taraf hidup di negara-negara sedang berkembang adalah penggunaan tenaga kerja yang tidak sesuai dan tidak efisien disbanding negara-negara maju. Keadaan tersebut terwujud dalam dua bentuk. Pertama, dalam bentuk pengangguran semu (under employment) yang ditunjukkan oleh orang-orang pedesaan dan perkotaan yang bekerja kurang dari apa yang dapat mereka kerjakan. Pengangguran semu ini juga termasuk yang biasanya bekerja full time tetapi produktivitasnya begitu rendah sehingga dengan pengurangan jam kerja tidak akan mempunyai pengaruh yang berarti terhadap jumlah output.
Bentuk yang kedua adalah pengangguran terbuka yaitu orang-orang yang mampu dan sangat ingin berkerja tetapi tidak ada pekerjaan yang tersedia bagi mereka. Keadaan ini berarti menuntut bahwa lapangan kerja harus diciptakan dan harus disediakan sesuai dengan perkembangan jumlah tenaga kerja.
5)    Ketergantungan Terhadap Produksi Pertanian dan Ekspor Produk Primer.
Sebagian besar penduduk di negara sedang berkembang berada di daerah perdesaan, sedangkan dinegara maju hanya sekitar 35 %. Jika dilihat dari proporsi tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian untuk negara yang sedang berkembang sekitar 60 %, sedangkan di negara yang sudah maju sekitar 15 %. Sementara itu, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto adalah sekitar 30 % di negara sedang berkembang, sedangkan di negara yang sudah maju sekitar 5 %.
Pada umumhya perekonomian negara-negara sedang berkembang berorientasi kepada produksi produk-produk primer untuk menyaingi kegiatan-kegiatan sekunder (industri) dan tersier (jasa-jasa). Komoditi-komoditi primer tersebut merupakan ekspor utama mereka ke negara-negara lain.
6)    Kekuasaan, Ketergantungan, dan Vulnerabiliti dalam Hubungan-Hubungan Internasional
Bagi negara sedang berkembang, suatu factor yang sangat penting yang menyebabkan rendahnya taraf hidup, perkembangan pengangguran, dan munculnya masalah ketidak merataan pembagian pendapatan adalah tingginya ketimpangan kekuasaan ekonomi dan politik antara negara-negara miskin dan negara-negara kaya. Ketimpangan tersebut tidak hanya dalam bentuk kekuasaan yang dominan negara-negara kaya untuk mengendalikan pola perdagangan internasional, tetapi juga tampak dalam kekuasaan mereka untuk mendikte cara-cara dan syarat-syarat dalam mentransfer teknologi, memberikan bantuan luar negeri, dan menyalurkan modal swasta ke negara-negara sedang berkembang.
Keadaan seperti ini akan melahirkan sikap ketergantungan negara-negara sedang berkembang terhadap negara-negara yang sudah maju. Akibatnya akan menimbulkan sifat mudah terpengaruh dari negara-ngara sedang berkembang terhadap kekuasaan-kekuasaan  di luar pengendalian mereka yang akhirnya bisa menguasai dan mendominasi kehidupan ekonomi dan social mereka.
Sedangkan sifat-sifat negara-negara sedang berlembang menurut Meir dan Baldwin adalah sebagai berikut :
a)     Produsen Barang-Barang Primer
Negara sedang berkembang pada umumnya mempunyai struktur produksi yang terdiri dari bahan pokok dan bahan makanan. Sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dan sebagian besar pendapatan nasional berasal dari sektor pertanian (primer). Sedangkan yang berkerja di sektor sekunder dan sektor tersier hanya sebagian kecil saja.
Pemusatan pada kegiatan produksi di sektor primer ini disebabkan oleh adanya factor-faktor produksi tanah dan tenaga kerja yang relatif banyak di negara sedang berkembang. Oleh karenanya, sesuai dengan prinsip keunggulan komparatif dan biaya komparatif, maka negara-negara sedang berkembang lebih banyak menggunakan tanah dan tenaga kerja dalam kegiatan produksi mereka.
b)    Masalah Tekanan Penduduk
Masalah tekanan penduduk dapat berbentuk : pertama, adanya pengangguran di daerah perdesaan. Pengangguran ini disebabkan oleh sempitnya luas lahan disbanding jumlah penduduk yang bermukim disitu. Kedua, Pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat. Hal ini disebabkan antara lain oleh menurunnya tingkat kematian dan semakin tingginya tingkat kelahiran di negara-negara sedang berkembang; dan ketiga, Tingkat kelahiran yang tinggi tersebut menyebabkan amkin besarnya beban tanggungan orang tua, sehingga menurunkan tingkat konsumsi rata-rata. Keadaan tersebut disebabkan oleh tingkat produksi yang relatif tetap dan rendah.
c)     Sumber Daya Alam Belum Banyak Diolah
Di negara-negara sedang berkembang, sumberdaya –sumberdaya alam belum banyak dimanfaatkan sehingga masih bersifat potensial. Sumber daya alam tersebut belum dapat menjadi sumberdaya-sumberdaya yang riil karena kurangnya kapital, tenaga ahli, dan wiraswasta.
d)    Penduduk Masih Terbelakang
Penduduk di negara-negara sedang berkembang relatif masih terbelakang secara ekonomis. Hal ini berarti bahwa kualitas penduduknya sebagai factor produksi (tenaga kerja) rendah. Mereka masih merupakan factor produksi yang kurang efisien dan mobilitas kerjanya rendah baik secara vertical maupun horizontal.
e)     Kekurangan Kapital
Kekurangan kapital ini bisa dijelaskan dengan menggunakan konsep lingkaran tak berujung pangkal (vicious circle). Kekurangan kapital disebabkan oleh rendahnya investasi, sedang rendahnya investasi disebabkan oleh rendahnya tingkat tabungan. Rendahnya tingkat tabungan disebabkan oleh rendahnya pendapatan, sedang rendahnya pendapatan karena tingkat produktivitas yang rendah dari tenaga kerja, sumber daya alam, dan kapital. Rendahnya produktivitas disebabkan oleh keterbelakangan penduduk, belum dimanfaatkannya sumber daya alam yang secara optimal, dan kurangnya kapital. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa negara itu miskin karena miskin.
f)     Orientasi Perdagangan  Luar Negeri
Negara sedang berkembang biasanya mengekspor komoditi-komoditi primer. Ekspor komoditi-komoditi primer tersebut kadangkala bukan berarti menunjukkan adanya surplus dalam negeri, tetapi  sebenarnya karena ketidakmampuan dalam mengolah komoditi-komoditi tersebut menjadi lebih berguna.



DAFTAR NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG:
NEGARA MAJU
1. Benua Asia
a. Jepang
b. Korea selatan
c. Cina
d. Singapura

2. Benua Amerika
a. Kanada
b. Amerika serikat

3. Australia
a. Australia
b. New zeland

4. Eropa
a. Inggris
b. Prancis
c. Belanda
d. Jerman
e. Spanyol
f. Swiss
g. Swedia
h. Norwegia
i. Denmark
j. Finlandia
k. Belgia
l. Italia 

NEGARA BERKEMBANG
1. Asia barat daya
a. Siria
b. Libanon
c. Oman
d. Yaman
e. Arab saudi
f. Irak
g. Iran
h. Dll

2. Asia selatan
a. Nepal
b. Srilanka
c. Pakistan
d. Butan
e. Bangladesh
f. Dll

3. Asia Timur
a. Mongolia
b. Korea utara
c. Georgia
d. Armenia
e. Ukraina
f. Dll

4. Asia tenggara
a. Indonesia
b. Malaysia
c. Myanmar
d. Laos
e. Brunei darussalam
f. Kamboja
g. Dll

5. Asia tengah
a. Tajikstan
b. Uzbekistan
c. Kazakstan
d. Dll

6. Amerika tengah
a. Elsavador
b. Belize
c. Costarika
d. Honduras
e. Dll

7. Amerika selatan
a. Uruguai
b. Colombia
c. Chile
d. Brazil
e. Suriname
f. Venezuela
g. Argentina
h. Dll

7. Afrika
semua negara di benua afrika.





Penulis : aLamathuR d'hileudjapanist II | | 11 Tanggapan
aLamathuR.com - Menurut Paul Hoffman, gambaran suatu negara yang terbelakang adalah suatu negara yang ditandai oleh kemiskinan, kota yang dipadati oleh pengemis, yang jarang memiliki industri, persediaan tenaga listrik yang tidak memadai, tidak memiliki jalan raya dan jalan kereta api yang cukup, pemerintah belum dapat memberikan pelayanan yang memadai, komunikasi yang buruk, Rumah sakit dan lembaga pendidikan tinggi sangat sedikit, Sebagian besar penduduk buta huruf dan miskin, sistem perbankan jelek, dan ekspornya ke negara lain sama sekali terdiri bahan mentah, hasil tambang, atau buah-buahan dan beberapa bahan makanan.

KEMISKINAN UMUM
Negara terbelakang adalah negara yang dicekam kemiskinan seperti tercermin di dalam pendapatan per kapita yang rendah. Pendapatan per kapita yang rendah ini lebih jauh tercermin pula dalam standar kehidupan rakyatnya yang rendah. Di negara seperti ini makanan merupakan jenis konsumsi utama dan sekitar 75 persen dari pendapatan dibelanjakan untuk makanan, dibandingkan dengan hanya 20 persen di negara maju. Akibatnya, rata-rata kalori yang dimakan di negara terbelakang adalah 2000, dibanding 3000 lebih pada negara maju. Lebih dari 1200 juta penduduk tidak memiliki air minum bersih dan lebih dari 1400 juta tidak memiliki tempat pembuangan sampah yang memenuhi kesehatan. Dan pelayanan seperti pendidikan dan kesehatan sangat minim.

PERTANIAN, MATA PENCAHARIAN UTAMA
Di negara terbelakang, duapertiga atau lebih penduduk tinggal di daerah pedesaan dan matapencaharian utama adalah pertanian. Pertanian sebagai matapencaharian pokok kebanyakan tidak bersifat produktif, karena dilakukan dengan cara kuno dan dengan metode produksi usang serta ketinggalan zaman. Negara-negara terbelakang mengkhususkan diri pada produksi bahan mentah dan pangan, namun sebagian lain ada yang juga mengkhususkan diri pada produksi primer, seperti barang tambang. Selain itu ada juga negara sedang berkembang sektor sekunder dengan industri barang-barang konsumen sederhana, ringan, dan kecil.
Dan negara sedang berkembang sector tersier, yaitu transport, perdagangan, perbankan, dan jasa asuransi.

EKONOMI DUALISTIS
Hampir semua negara sedang berkembang mempunyai perekonomian yang dualistis. Di satu pihak berekonomi pasar dan dipihak lain berekonomi pertanian; yang pertama berpusat di dekat kota sedang yang lain di daerah pedesaan. Dengan berpusat di kota, ekonomi pasar berciri ultra-modern. Sedangkan ekonomi pertanian sangat terbelakang dan berorientasi pada pertanian. Di beberapa negara terbelakang, terdapat semacam kantong-kantong yang dikendalikan luar negeri (yang sangat bersifat kapitalis) sehingga tercipta suatu wajah perekonomian yang tiga-muka. Sifat dua-muka atau tiga-muka perekonomian tadi tidak mendatangkan atau tidak mendorong kemajuan ekonomi yang sehat.

SUMBER ALAM KURANG TEROLAH
Pada umumnya negara terbelakang tidak kekurangan tanah, air, hutan, dan kaya akan barang tambang. Tetapi belum atau kurang dimanfaatkan atau salah penggunaan karena langkanya pengetahuan teknik serta tidak tersedianya modal dan kecilnya pasar.

CIRI-CIRI DEMOGRAFI
Negara terbelakang sangat mengemuka satu sama lain karena posisi demografi dan kecenderungannya. Yang disebabkan oleh luas, kepadatan, struktur usia, dan laju pertumbuhan penduduk yang beragam. Namun ada satu kesamaan cirri, yaitu pertambahan penduduk yang cepat. Hampir semua negara terbelakang mempunyai potensi pertumbuhan penduduk yang tinggi serta dibarengi oleh tingkat kematian yang cenderung menurun. Penurunan tingkat kematian dan peningkatan tingkat kelahiran memperhebat tingkat pertumbuhan penduduk. Dan rata-rata laju pertumbuhan tahunan penduduk di negara sedang berkembang adalah 2,5 persen dibanding 0,8 persen di negara maju. Peningkatan jumlah penduduk yang cepat ini semakin memperberat persoalan kelangkaan modal karena untuk menampung pertumbuhan tenaga kerja perlu dilakukan investasi secara besar-besaran meski dengan peralatan kuno. Kemungkinannya sangat kecil untuk dapat melakukan investasi dengan peralatan yang baik yang dapat meningkatkan produktivitas buruh. Terakhir, di sebagian besar negara terbelakang, kepadatan penduduk di daerah pertanian begitu tinggi dibandingkan dengan luas tanah yang dapat ditanami.


PENGANGGURAN DAN PENGANGGURAN TERSEMBUNYI
Pengangguran di kota membengkak seiring dengan urbanisasi dan meningkatnya pendidikan. Akan tetapi sektor industri tidak berkembang sejalan dengan pertumbuhan tenaga kerja, sehingga memperbesar pengangguran. Di samping itu ada pula pengangguur yang berpendidikan, mereka gagal mendapatkan pekerjaan karena tegarnya struktur dan tiadanya perencanaan tenaga kerja. Akan tetapi pengangguran tersembunyi merupakan ciri utama sebagian besar negara terbelakang. Pengangguran seperti itu ada karena secara terpaksa. Setiap orang bersedia kerja tetapi mereka tidak mendapatkan kerja karena tiadanya faktor pendukung. Ada pula jenis penganggur tersembunyi lain seperti apabila seseorang karena menganggur terpaksa melakukan pekerjaan yang menurutnya tidak sesuai dengan keinginannya, atau tidak sepadan dengan pendidikannya. Atau lebih jauh ada pula yang bekerja sehari penuh tetapi dengan imbalan yang sedikit – hanya cukup untuk bangkit dari batas kemiskinan.

KETERBELAKANGAN EKONOMI
Di semua negara terbelakang, dicirikan secara khusus oleh keterbelakangan ekonomi berupa efisiensi tenaga kerja yang rendah, berbagai faktor yang tidak tersedia dan tidak berjalan dengan semestinya.

KETIADAAN INSIATIF DAN USAHA
ciri khas lain negara terbelakang adalah tiadanya kemampuan wiraswasta. Kewiraswastaan terhalang oleh sistem sosial yang menutup daya cipta. “Kekuatan adat istiadat, ketegaran status, dan kecurigaan pada gagasan baru dan kecurigaan pada keinginan intelektual, kesemuanya itu menciptakan iklim yang tidak menunjang eksperimen dan inovasi”. Negara yang seperti ini hanya akan memiliki sekelompok kecil pedagang yang sebagian besar berdagang barang konsumsi dan bertindak sebagai penyedia uang serta wakil-wakil real estate. Betapapun kecilnya kewiraswastaan itu ia cenderung menjadi monopolistis atau kwasi-monopolistik. Para wiraswastawan membangun hubungan pribadi dan politik dengan pejabat pemerintah, menikamti satu kedudukan istimewa dan menerima perlakuan khusus di bidang keuangan, pajak, dan hal-hal lainnya. Tetapi para wiraswastawan di luar (asing) telah memainkan peranan lebih penting di dalam pembangunan ekonomi di negeri-negeri seperti itu. Pembangunan ekonomi tidak pernah merupakan motif. Mereka semata didorong oleh motif mencari untung. Pembangunan apa pun yang terjadi tujuan pokoknya adalah untuk menggarap daerah koloni itu demi kepentingan sendiri dan kepentingan pemerintah imperialis. Tidak mengherankan kalau akhirnya negara terbelakang mengalami kekurangan kewiraswastaan, yang menurut Schumpeter adalah faktor penting di dalam pembangunan ekonomi.

KELANGKAAN ALAT MODAL
Kelangkaan terhadap hal ini merupakan ciri umum lain negara terbelakang. Negara terbelakang di artikan sebagai perekonomian yang “miskin modal” atau dengan “tabungan dan investasi rendah”. Investasi bruto hanya berkisar 5-6 persen dari pendapatan nasional bruto sedangkan di negara industri adalah kira-kira sebesar 15-20 persen. Sebab utama kurangnya modal adalah kecilnya tabungan, atau lebih tepat dikatakan kurangnya investasi di dalam sarana produksi yang mampu menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi. Karena pendapatan per kapita rendah, penduduk tidak dapat menabung banyak, sehingga bagian yang tersisa untuk investasi lebih lanjut hanya sedikit. Alasan lain mengapa rasio tabungan masyarakat tidak meningkat sejalan dengan naiknya tingkat pendapatan jangka panjang di terangkan oleh Nurkse dengan istilah Demonstration Effects. Adanya kecenderungan pada masyarakat di negara-negara terbelakang untuk menyamai kebutuhan hidup yang berkiblat kepada negara-negara maju. Sebagai akibat Demonstration Effects itu, peningkatan pendapatan dipergunakan untuk pengeluaran konsumsi mewah. Dengan demikian tabungan menjadi statis atau tidak berarti. Demonstration Effects biasanya ditularkan oleh film, majalah asing, atau kunjungan ke luar negri.
Bagi negara terbelakang, kekurangan modal dengan demikian bersifat kronis dan faktor yang menyebabkannya bukan hanya ekonomi tetapi juga bersifat sosio politik.

                                 KETERBELAKANGAN TEKNOLOGI
Keterbelakangan teknologi ini disebabkan oleh adanya dualisme teknologi yaitu penggunaan berbagai fungsi produksi sekaligus dalam sektor ekonomi yang maju dan sektor ekonomi yang tradisional. Keberadaan dualisme seperti itu memperberat persoalan pengangguran struktural dan teknologis di sektor industri dan peengangguran tersembunyi di sektor pedesaan. Negara terbelakang juga ditandai oleh adanya ketidakseimbangan struktural pada tingkat faktor-faktor. Ketidak seimbangan ini membawa kepada pengangguran teknologis. Pengangguran teknologis timbul karena kekeliuan alokasi sumber, struktur permintaan dan kendala-kendala teknologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar